Fungsi Busana
Dalam Candrakaranika Adiparwa,
Kamus Kecil Bahasa Jawa Kuno disebutkan bahwa busana adalah pakaian yang
digunakan dalam suasana atau peristiwa tertentu. Busana merupakan sinonim kata “pakaian”. Busana
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai pakaian lengkap (yang indah-indah). (Anton M. Muliono,1989:140).
Sedangkan dalam Kamus Bahasa Kawi yang dimaksud dengan busana adalah pakaian
atau perhiasan badan. (RM. Sutjipto, 1982:44). Dengan demikian yang dimaksud
dengan busana adalah pakaian lengkap atau segala sesuatu yang dikenakan oleh
seseorang yang terdiri dari pakaian dan perlengkapan pendukungnya, yang akan
lebih baik lagi jika dilengkapai dengan tata rias wajah. Dalam
pengertiannya yang luas, busana
merupakan berbagai jenis bahan yang dikenakan atau diterapkan pada tubuh,
termasuk di dalamnya perhiasan dan dekorasi yang antara lain berupa rajah (tatto), zat warna, bulu dan kulit
binatang, serta hal-hal yang “merusak bentuk tubuh”, seperti yang ada pada
suku-suku primitif yang sebenarnya bertujuan untuk menghias dan mempercantik
diri.
Pada akhir abad 20, sandang atau busana memiliki fungsi yang lebih luas. Busana saat ini merupakan sarana untuk menyampaikan misi atau pesan kepada orang lain. Busana merupakan bahasa non verbal yang mampu menyatakan status sosial, peran, rasa percaya diri, pekerjaan, dan kepribadian. Busana mampu memunculkan “image” atau citra yang dapat mengundang reaksi orang yang melihatnya.
1.Fungsi fisik (moralitas) : busana sebagai fungsi fisik secara moralitas, penutup aurat dan berkaitan dengan adab sopan santun dan etika.
2.Fungsi psikis : busana adalah pendukung spiritual dan moril bagi pemakainya. Kepuasan pemakai, keberhasilan bersosialisasi akan mendorong nya dapat tampil lebih percaya diri dan meyakinkan.
3.Fungsi estetik : busana merupakan unsur keserasian bagi tubuh pemakainya. Setiap orang ingin tampil menarik, dikagumi dan dihargai. Hal ini dapat dicapai antara lain dengan penampilan yang baik, serasi dan menyenangkan.
4.Fungsi simbolik : busana dapat menggambarkan identitas pemakainya, status sosialnya, pekerjaan, dan sebagainya.
Busana dan Ekspresi
1.Bila ketika dipakai oleh “pemakainya” menimbulkan rasa percaya diri, nyaman dan membahagiakan.
2.Harus menimbulkan citra etik dan estetik bagi para penikmat/penonton.
3.Fashion dan Hirarki, bisa terjadi untuk membedakan kedudukan/hirarki,baik
yang bersifat formal (jenjang pangkat) maupun non formal dalam bidang- bidang tertentu, seperti dalam kemiliteran.
4.Busana (Fashion) dan Kontrol sosial, bila fashion sudah mengandung falsafah tertentu, misalnya mengusung moralitas sosial. Tetapi ada kecenderungan kontrol sosial semakin mencair, sehingga muncul busana yang mengumbar bagian sensual wanita yang menjadi sebuah gaya hidup baru. Busana (Fashion)
dan budaya, bagaimana pakaian dapat berperan
dalam nilai budaya, dan tidak sekedar
sebagai kebutuhan yang bersifat
kenikmatan(utile)
ragawi saja. (ska)
1.Bila ketika dipakai oleh “pemakainya” menimbulkan rasa percaya diri, nyaman dan membahagiakan.
2.Harus menimbulkan citra etik dan estetik bagi para penikmat/penonton.
3.Fashion dan Hirarki, bisa terjadi untuk membedakan kedudukan/hirarki,baik
yang bersifat formal (jenjang pangkat) maupun non formal dalam bidang- bidang tertentu, seperti dalam kemiliteran.
4.Busana (Fashion) dan Kontrol sosial, bila fashion sudah mengandung falsafah tertentu, misalnya mengusung moralitas sosial. Tetapi ada kecenderungan kontrol sosial semakin mencair, sehingga muncul busana yang mengumbar bagian sensual wanita yang menjadi sebuah gaya hidup baru.


0 komentar:
Poskan Komentar