06 April 2010

Tak ada yang Selesai dengan Air mata



Ken atik djatmiko, maret 2010

Angin tak pernah mengabarkan apa-apa
Karena kita tak pernah mau mendengarnya
Kita tak pernah mampu membaca tanda,
karena terlalu sibuk menguras isi perutnya
Ketika Angin menghempaskan semua yang dilaluinya,
dan, Air laut memuntahkan asinnya,
bersatu menjadi bencana yang mengetuk nalar dan jiwa
Kita juga tak pernah jera
menangis,
meraung,
menghiba,
memohon belas kasih,
Padahal tuhan tidak pernah murka
Manusia yang menciptakan bencana
Manusia yang merekayasa petaka
Manusia yang menjual nestapa
Jangan menangis lagi sayang
Karena bencana yang kerap tiba
Tak ada yang selesai dengan air mata

0 komentar: