09 September 2011



"RAyS Sent Down from Heoven by GoD"


by Ken Atik Djatmiko on Sunday, August 7, 2011 at 1:29pm

Memandang langit yang biru lepas luas, sambil meniti perjalanan yang akan mengobati kerinduan.
Seorang kakek berbaju warna khaki menaiki sepeda onthel kelabu tua mengayuh dengan senyum, sumringah bertopi blantik coklat tua.
Melewati tikungan ada pokok pohon dengan kulit bertekstur hijau lumut berdiri persis disudutnya, seakan menyapa ku datang melaluinya.
Kanak2 berkaos kuning, merah, hitam, putih, biru berkejaran berkeringat dilapangan yang hijau royo2 seperti permadani, bukan main bola..tapi berlarian, berkejaran..berteriak..ada warna merah yang disemburkan
Mengapa ada yang gundah karena tak menempati kursi emas yang didambakan
Mengapa ada yang resah ketika warna warni bendera yang dikibarkan tak disukai banyak orang,
Padahal warna tak pernah memihak siapapun, mau kurus mau gemuk mau putih mau hitam, mau coklat, pucat, mau kaya mau miskin, mau sendiri, mau bekelompok...ya terserahlah.
Warna akan tampil apa adanya, gagah, anggun, berwibawa, riang, mengejutkan, tak ada yang buruk jika pun ada yang busuk itu karena kita juga. Jika kemudian warna dititipi pesan dan citra macam2 itu hanya kerjaan pintar2nya orang  saja
belajar dari yg diberi tuhan
(foto by ken)

Warna berjuta ada di sekitar kita..betulkah berjuta?
Menurut teori hanya ada warna primera, sekunder,  tersier dan beberapa turunannya
kalau kemudian berjuta2 darimana?
rasanya...... dari hati kita..

Dalam sejarah telah tercatat mengenai penggunaan warna yang telah dilakukan oleh manusia-seniman prasejarah. Lukisan-lukisan di dinding gua dari jaman prasejarah seperti yang ditemukan di  Lascaux dan Altamira di Perancis Selatan dan Spanyol, bahkan di Gua Leang2 Sulsel Indonesia  ditemui warna merah dan kuning senada.

Ketika peradaban dan kebudayaan  manusia makin maju maka banyak ditemukan  pengunaan warna yang diterapkan untuk arsitektur seperti piramida di Mesir yang pada bagian luar dan di dalamnya menggunakan warna-warna hijau, biru, biru kehijauan, dan merah keemasan yang hingga saat ini masih melekat dengan baik.Copper sodium silicate adalah pigmen yang menghasilkan wana biru dan hijau yang ditemukan oleh bangsa Mesir pada jaman Pharaoh yang kemudian terkenal dengan sebutan biru mesir.

Kemudian para ilmuwan barat mengembangkan warna dengan "rasa-luas" pengetahuan nya, Sir Isac Newton, Jc Le Blond, Mozess Haris, Michael Eugene Chevreul (1824), Johan Wolfgang von Goethe, Sir David Brewster (1831), Ogden Rood (1879), Albert Munsell, Faber Birren hingga yang datang dari Jepang seperti Shigenobu Kobayashi, dan masih banyak orang cerdas pintar yang meneliti warna, bagaimana dengan kita?.

Nusantara begitu kaya dengan warna, semua memperindah wawasan,  persepsi, dan lubuk hati kita.
Tak perlu repot mencari ukuran, skala, kedalaman, dan nilai (value) warna, semua ada perannya masing2, semua ada penggemarnya masing2, semua ada tempatnya masing2. Selama warna tidak dijadikan alat mengintimidasi, maka warna itu betapa cantiknya.

Sambil tersenyum, aku berjalan terus menembus jalanan aspal abu2 yang mendidih, keriuhan kota yang hiruk pikuk dengan ragam bunyian dan warna warni yang saling berebut kedudukan dan citra.
Tak apalah......selama tak saling menyakiti dan mengintimidsi dengan jahat dan kejam, akan ku sukai warna apapun engkau. Karena seorang Socrates pun berujar bahwa warna itu kiriman tuhan, dan rasanya kita tak berhak untuk menolaknya.

ken atik, panas terang tanah  ramadhan, 7 agustus 2011

0 komentar: