"RAyS
Sent Down from Heoven by GoD"
by Ken Atik Djatmiko on Sunday, August 7, 2011 at 1:29pm
Memandang
langit yang biru lepas luas, sambil meniti perjalanan yang akan mengobati
kerinduan.
Seorang
kakek berbaju warna khaki menaiki sepeda onthel kelabu tua mengayuh dengan
senyum, sumringah bertopi blantik coklat tua.
Melewati
tikungan ada pokok pohon dengan kulit bertekstur hijau lumut berdiri persis
disudutnya, seakan menyapa ku datang melaluinya.
Kanak2
berkaos kuning, merah, hitam, putih, biru berkejaran berkeringat dilapangan
yang hijau royo2 seperti permadani, bukan main bola..tapi berlarian,
berkejaran..berteriak..ada warna merah yang disemburkan
Mengapa
ada yang gundah karena tak menempati kursi emas yang didambakan
Mengapa
ada yang resah ketika warna warni bendera yang dikibarkan tak disukai banyak
orang,
Padahal
warna tak pernah memihak siapapun, mau kurus mau gemuk mau putih mau hitam, mau
coklat, pucat, mau kaya mau miskin, mau sendiri, mau bekelompok...ya
terserahlah.
Warna
akan tampil apa adanya, gagah, anggun, berwibawa, riang, mengejutkan, tak ada
yang buruk jika pun ada yang busuk itu karena kita juga. Jika kemudian warna
dititipi pesan dan citra macam2 itu hanya kerjaan pintar2nya orang saja
![]() |
| belajar dari yg diberi tuhan (foto by ken) |
Warna berjuta ada di sekitar kita..betulkah berjuta?
Menurut teori hanya ada warna primera, sekunder,
tersier dan beberapa turunannya
kalau kemudian berjuta2 darimana?
rasanya...... dari hati kita..
Dalam sejarah telah tercatat mengenai penggunaan warna
yang telah dilakukan oleh manusia-seniman prasejarah. Lukisan-lukisan di dinding
gua dari jaman prasejarah seperti yang ditemukan di Lascaux dan Altamira
di Perancis Selatan dan Spanyol, bahkan di Gua Leang2 Sulsel Indonesia
ditemui warna merah dan kuning senada.
Ketika peradaban dan kebudayaan manusia makin maju
maka banyak ditemukan pengunaan warna yang diterapkan untuk arsitektur
seperti piramida di Mesir yang pada bagian luar dan di dalamnya menggunakan
warna-warna hijau, biru, biru kehijauan, dan merah keemasan yang hingga saat
ini masih melekat dengan baik.Copper sodium silicate adalah pigmen yang
menghasilkan wana biru dan hijau yang ditemukan oleh bangsa Mesir pada jaman
Pharaoh yang kemudian terkenal dengan sebutan biru mesir.
Kemudian para ilmuwan barat mengembangkan warna dengan
"rasa-luas" pengetahuan nya, Sir Isac Newton, Jc Le
Blond, Mozess Haris, Michael Eugene Chevreul (1824), Johan Wolfgang von
Goethe, Sir David Brewster (1831), Ogden Rood (1879), Albert Munsell, Faber
Birren hingga yang datang dari Jepang seperti Shigenobu Kobayashi, dan masih
banyak orang cerdas pintar yang meneliti warna, bagaimana dengan kita?.
Nusantara begitu kaya dengan warna, semua memperindah
wawasan, persepsi, dan lubuk hati kita.
Tak perlu repot mencari ukuran, skala, kedalaman, dan
nilai (value) warna, semua ada perannya masing2, semua ada penggemarnya
masing2, semua ada tempatnya masing2. Selama warna tidak dijadikan alat
mengintimidasi, maka warna itu betapa cantiknya.
Sambil tersenyum, aku berjalan terus menembus jalanan
aspal abu2 yang mendidih, keriuhan kota yang hiruk pikuk dengan ragam bunyian
dan warna warni yang saling berebut kedudukan dan citra.
Tak apalah......selama tak saling menyakiti dan
mengintimidsi dengan jahat dan kejam, akan ku sukai warna apapun engkau. Karena
seorang Socrates pun berujar bahwa warna itu kiriman tuhan, dan rasanya kita
tak berhak untuk menolaknya.
ken
atik, panas terang tanah ramadhan, 7 agustus 2011

0 komentar:
Poskan Komentar